belajarlah apa saja dan mamfaatkan di jalan yang benar

Selasa, 11 Mei 2010

Pengkatalogan

BAB II
SISTEM KLASIFIKASI PERSEPULUHAN DEWEY

Pada bagian pertama telah dijelaskan pengertian tentang klasifikasi, tujan, serta telah dikenalkan pula beberapa system klasifikasi yang ada sekarang. Untuk selanjutnya pada bagian ini akan dijelaskan secara rinci system klasifikasi Dewey Decimal Classification yang lebih dikenal dengan nama DDC. Klasifikasi DDC ini merupakan system klasifikasi yang paling tua, paling popular, dan paling banyak pemakainya di seluruh dunia termasuk di negara Indonesia. DDC termasuk system klasifikasi yang baik karena memenuhi criteria dan ciri-ciri sebagai klasifikasi yang universal, terperinci dalam pembagian kelsnya, fleksibel dalam pengembangan kelas, mempunyai susunan yang sistematik dengan notasi yang sederhana dan mudah diingat, serta mempunyai indeks relative, serta mempunyai badan pengawas.
Dengan demikian, jika berkeinginan untuk menggunakan system klasifikasi ini, maka diperlukan untuk mempelajari secara mendalam, baik yang menyangkut sejarah perkembangan, maupun prinsip-prinsip dalam pembentukan notasi. Dengan mengetahui system klasifikasi persepuluhan Dewey, diharapkan akan lebih mudah dalam melakukan klasifikasi bahan pustaka.

A. Sejarah Perkembangan DDC

Pada tahun 1876 terbit sebuah pamflet berjudul ”A Classification and Subject Index for Cataloguing and Arranging the books and Pamphlets of a Library”. Penerbitan pamflet tersebut menandai terbitnya sistem Dewey Decimal Classification, yang lebih dikenal dengan singkatan DDC.
Dewey Decimal Classification (DDC) atau terkenal juga dengan sebutan Klasifikasi Persepuluhan Dewey merupakan skema klasifikasi perpustakaan modern yang banyak digunakan di dunia termasuk di Indonesia yang diciptakan oleh seorang berkebangsaan Amerika yang bernama Melvil Dewey. Melvil Dewey (1851-1932) adalah seorang mahasiswa dari Amherst College, Massachusetts negara bagian di Amerika Serikat. Setelah lulus dari perguruan tinggi tahun 1974 Dewey menjadi asisten pustakawan di perguruan tinggi tersebut, dan sejak itu perhatiannya dicurahkan pada bidang perpustakaan baik sebagai pengajar, penulis, maupun pembicara.
Semenjak terjun di bidang perpustakaan, Dewey menyadari benar adanya kebutuhan terhadap suatu bagan klasifikasi guna menata koleksi agar dapat digunakan secara sistematik. Sebelum bagan klasifikasi yang dibuat Dewey, sudah pernah ada bagan klasifikasi yang diciptakan oleh W.T. Harris tahun 1870 di sekolah Santos Louis dan ternyata tidak dapat memenuhi kebutuhan. Harris sendiri mencoba menyempurnakan hasil dari pemikiran Francis Bacon yang telah membuat tiga kelompok, yaitu : Sejarah (History), Sastra (Poesy), Filsafat (Philosophy). Harris membalik urutan yang telah dibuat Francis Bacon menjadi : filsafat, sastra, dan sejarah, dengan menyempurnakannya sebagai berikut :

Science
-----------
Philosophy
Religion
Social and Political Science
Natural Sciences
Useful Arts
Fine Arts
Poetry
Pure Fiction
Literary Miscellany

History
------------
Geography and Travel
Civil History
Biography
Appendix
-------------
Miscxellany

Setelah mempelajari secara saksama sistem klasifikasi yang telah ada Dewey berhasil membuat pengelompokan bidang–bidang pengetahuan. Seluruh bidang pengetahuan dikelopokan menjadi 9 kelompok, tetapi untuk digunakan mengklasifikasi buku-buku yang ada ternyata belum dapat memenuhi kebutuhan. Hal ini dikarenakan masih terdapatnya buku-buku yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu kelompok yang sembilan itu, yaitu buku-buku yang bersifat umum atau berisi subjek-subjek dari berbagai macam disiplin ilmu. Dengan demikian, Dewey membuat satu kelompok lagi untuk jenis-jenis buku itu, sehingga seluruhnya menjadi 10 kelompok, yaitu :

General Works
Philosophy
Religion
Sociology
Philology
Science
Useful Arts
Fine Arts
Literatur
History
Biography
Geography and Travel

Setelah ditelaah secara saksama, ternyata pengelomokan tahap pertama yang dibuat oleh Dewey sangat dipengaruhi hasil karya Harris. Dengan penyempurnaan istilah, kemudian kesepuluh kelompok itu masing-masing dijadikan kelas utama dari sistem klasifiksi yang dikembangkan. Masing-masing kelas utama dirinci ke dalam 10 divisi dan masing-masing divisi dirinci ke dalam 10 seksi dan demikian seterusnya setiap tahap pembagian, hasilnya dibagi lagi menjadi 10 kelompok yang merupakan subordinasi dari padanya.
Sistem klasifikasi Dewey menggunakan notasi dalam bentuk angka Arab. Edisi pertama klasifikasi Dewey terdiri dari 12 halaman sebagai pengantar, 12 halaman tabel, dan 18 halaman indeks. Jumlah halaman seluruhnya edisi pertama ini hanya terdiri dari 42 halaman.
DDC edisi ke-2 terbit pada tahun 1885, dan pada edisi kedua ini terjadi relokasi artinya penggeseran sebuah subjek dari sebuah nomor ke nomor lain. Edisi ke-2 ini merupakan basis pola notasi edisi selanjutnya. Dalam edisi tersebut Dewey pertama kali mengemukakan prinsip integritas angka, artinya nomor dalam bagan Dewey dianggap sudah mapan walaupun mungkin terjadi relokasi. Dewey mengawasi revisi bagannya hingga edisi ke-13.
Sampai edisi ke-14 tidak ada perubahan dalam kebijakan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Tetapi edisi ini menampilkan rincian pembagian kelas yang tidak seimbang. Perluasan pun tidak seimbang karena masih banyak bidang yang belum dikembangkan.
Kemudian pada edisi ke-15 diambil kebijakan yaitu rincian di beberapa bidang dipangkas sehingga terdapat keseimbangan dalam subdivisi. Kalau pada edisi 14 terdapat sekitar 31.000 entri maka pada edisi ke-15 dipangkas menjadi 4.700 entri. Juga disadari bahwa bagan DDC tidak sesuai dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya sains dan teknologi. Pada edisi ke-15 diputuskan untuk relokasi sejumlah besar subjek. Indeks juga dilakukan perbaikan dan diringkas sedangkan ejaan yang disederhanakan digunakan pada edisi sebelumnya kini ditinggalkan
DDC edisi ke-16 yang terbit tahun 1958 mulai tradisi baru dengan kebijakan siklus revisi tujuh tahunan artinya bagan Dewey akan keluar dalam edisi baru setiap 7 tahun. Pada edisi ke-16 diputuskan untuk kembali kepada kebijakan lama mempertahankan enumarasi terinci sambil mengambil butir inovatif dari edisi ke-15 seperti ejaan baku, peristilahan yang mutakhir, serta penyajian tipografi yang menarik.
Edisi ke-17 hingga edisi ke-19 tetap berpegang pada kebijakan di atas. Editor DDC tetap mempertahanankan prinsip integritas nomor dalam batas-batas yang masih masuk akal. Edisi ke-20 terbit pada tahun 1989 dengan beberapa perubahan. Warna jilid menjadi coklat muda dan dibagi menjadi 4 jilid karena edisi sebelumnya dianggap terlalu repot. Jilid 1 merupakan tabel subdivisi standar, jilid 2 merupakan bagan dari kelas 000 – 500, jilid 3 merupakan bagan 600 – 900, dan jilid 4 merpakan indeks. Walaupun tetap mempertahankan prinsip integritas nomor, dalam edisi ke-20 ini prinsip tersebut sedikit dilanggar. Dan pada edisi ke-20 ini terjadi relokasi misalnya komputer kini menempati 001, yang semula merupakan bagian dari elektronika.
Edisi ke-21 terbit pada tahun 1996, dan tahun 2003 terbit pula edisi ke-22, dengan warna jilidannya menjadi hijau dan hitam, juga terdiri atas 4 jilid sama dengan edisi ke-21. untuk edisi yang ke-22 ini terbit tidak hanya dengan format tercetak tetapi juga diterbitkan dalam format elektronik dalam bentuk Compact Disc Read Only Memory (CD ROM)


B. Prinsip Dasar DDC

DDC merupakan klasifikasi berdasarkan pada suatu disiplin ilmu bukan hanya sekedar untuk pengelompokan bahan pustaka berdasarkan subjek belaka. Pembagian kelas utama (main classes) dan subklas berdasarkan disiplin akademis atau bidang kajian, bukannya berdasarkan subjek. Hasilnya ialah subjek yang sama mungkin memperoleh tempat kelas lebih dari satu. Sebagai contoh untuk subjek keluarga, bisa digolongkan dalam kelas etika, agama, sosiologi, adat istiadat, keluarga berencana, rumah tangga atau pada subjek lainnya.
Dalam kelas utama DDC, enam dari 9 kelas utama termasuk kelompok humaniora. Perkembangan dalam ilmu pengetahuan tidak sama cepatnya sehingga terdapat perbedaan kecepatan dan kuantitas ilmu pengetahuan. Sebagai contoh untuk kelas filsafat dan agama relatif tidak ada perubahan sejak edisi pertama sampai dengan edisi ke-22, sementara untuk teknologi/ ilmu-ilmu terapan mengalami perkembangan dan perluasan.
Prinsip dasar pembagian DDC disebut desimal. Hal ini dikarenakan DDC tersebut membagi semua ilmu pengetahuan ke dalam 10 kelas subjek utama dengan notasi 000 sampai dengan 900. begitulah seterusnya setiap pembagian kelas diuraikan menjadi 10 bagian subjek yang lebih khusus. Ciri utama lain dari DDC ini adalah sebagai berikut :
DDC merupakan klasifikasi pengetahuan untuk tujuan penyimpanan bahan pustaka.
DDC melakukan pembagian subjek atau ilmu pengetahuan secara hirarkis. Yaitu pembagian suatu subjek yang umum menjadi khusus.
Menggunakan prinsip klasifikasi disiplin. Artinya DDC menempatkan kelas suatu subjek dikaitkan dengan disiplin ilmu yang membawahinya.
Hanya mampu memberikan notasi kelas bagi satu subjek. Dalam menghadapi subjek bahan pustaka yang lebih dari satu, DDC harus memilih salah satu subjeknya yang paling dominan sebagai dasar pemberian notasi kelas.

Struktur DDC pada edisi ke-22 terdiri dari 4 volume yang terdiri dari :
Volume 1 : Introduksi dan tabel (manual and tables)
Volume 2 : Bagan 000 – 599 (schedules 000 – 599)
Volume 3 : Bagan 600 – 999 (schedules 600 – 999)
Volume 4 : Indeks relative (relative index)

Dengan prinsip decimal, DDC memberikan tiga ringkasan yang menun jukkan 10 kelas utama, 100 divisi, dan 1000 seksi dari bagan utama.

C. Notasi DDC

DDC merupakan bagan klasifikasi persepuluhan Dewey yang menganut prinsip desimal untuk membagi semua bidang ilmu pengetahuan. Sebuah bagan klasifiksi enumerated seperti DDC terdiri dari unsur notasi dan formulasi subjek yang merupakan terjemahan dari notasi tersebut. DDC menggunakan notasi murni berdasarkan angka Arab. Seluruh ilmu pengetahuan dibagi ke dalam 9 kelas utama, yang diberi notasi 100 sampai dengan 900. di samping itu terdapat kelas ke-10 yaitu untuk karya umum yang diberi notasi 000. suatu notasi dari DDC sekurang-kurangnya terdiri dari 3 digit, sehingga harus menambah nol agar terbentuk bilangan basis tiga digit. Misalnya, 2 menjadi 200 untuk agama dan 510 untuk matematika. Bagi bilangan yang berisi lebi dari tiga digit, pada tiga digit pertama ditambah dengan tanda titik.
Untuk lebih dapat dipahami, berikut ini akan dipaparkan contoh-contoh pembagian kelas utama, divisi, dan subdivisi untuk bagan klasifikasi DDC. Pembagian untuk sepuluh kelas utama dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini.


Tabel 2.1
Bagan DDC Sepuluh Kelas Utama
(Berdasarkan DDC Edisi 22)


Notasi


Ilmu Pengetahuan
000
Computer science, information & general works
100
Philosophy & psychology
200
Religion
300
Social sciences
400
Language
500
Science
600
Technology
700
Arts & recreation
800
Literatur
900
History & geography


Untuk membagi kelas utama digunakan prinsip desimal. Setiap kelas utama dibagi lagi secara desimal menjadi 10 subklas (divisi). Sebagai contoh diambil kelas utama 500 (ilmu-ilmu murni), yaitu sebagai berikut :

500 ILMU-ILMU MURNI (NATURAL SCIENCES)
510 Matematika (Mathematics)
520 Astronomi (Astronmy)
530 Fisika (Physics)
540 Kimia (Chemistry)
550 Ilmu Pengetahuan tentang bumi (Earth sciences)
560 Paleontologi (Paleontology)
570 Ilmu-Ilmu tentang kehidupan (Life sciences)
580 Ilmu-ilmu tumbuh-tumbuhan (Botanical sciences)
590 Ilmu-ilmu hewan (Zoological sciences)

Selanjutnya setiap subklas (divisi) dapat dirinci menjadi 10 seksi. Sebagai contoh diambil 540 untuk kimia.
540 Kimia (Chemistry)
541 Kimia fisik dan teoritas (Physical and theoretical chemistry)
542 Teknik, alat perlengkapan (Techniques, equipment)
543 Kimia analitis (Analytical chemistry)
544 Kimia kualitatif (Qualitatif analysis)
545 Kimia kuantitatif (Quantitative analysis)
546 Kimia anorganik (Inorganic chemistry)
547 Kimia organik (Organic chemistry)
548 Kristalogi (Crystallography)
549 Mineralogi (Mineralogy)

Tiap-tiap seksi secara desimal dapat dibagi menjadi subseksi. Contoh untuk subseksi ini dapat dilihat seperti di bawah ini.
542 Teknik, alat perlengkapan (Techniques, equipment)
542.1 Laboratorium (Laboratories)
542.2 -
542.3 Alat-alat pengukur dan pengetesan (Testing and measuring)
542.4 Alat-alat pemanasan dan distilasi (Heating and distilling)
542.5 Pipa peniup (Blowpipes)
542.6 Filter (Filtering)
542.7 Produksi, pengolahan, pengukuran gas
(Gas production, processing, measuring)
542.8 Alat-alat listrik dan elektronis perlengkapan
(Electrical and electronic equipment)
542.9 -

Sistem Dewey memungkinkan pembagian subseksi/subdivisi lebih spesifik dan terinci dengan menambahkan notasi desimal. Titik desimal selalu dibubuhkan pada digit ketiga, dan sesudahnya tidak perlu dibubuhi titik. Sesudah tanda titik, perluasan notasi dapat dilakukan. Notasi Dewey tidak pernah berakhir dengan nol sesudah titik desimal karena nol terminal sesudah titik desimal tidak ada nilai aritmatikanya.
Dalam notasi DDC sering kali terdapat angka konsisten yang sering kali digunakan untuk membentuk subjek. Subjek tersebut mencerminkan subjek yang sama, sebagai contoh Italia. Italia, memperoleh angka 5, namun 5 tidak selalu Italia, yaitu untuk :
bahasa Italia : 450
sastra Italia : 850
geologi Italia : 554.5
filsafat Italia : 195
kondisi demikian memungkinkan untuk membantu ingatan kita dalam melakukan proses klasifikasi, serta memungkinkan mengembangkan sistem enumaratif ke arah bagan sintesis analisis. Dengan demikian bagan klasifikasi DDC bisa dikatakan bersifat mnemonics.

D. Tabel-Tabel Pembantu

Selain bagan lengkap, DDC mempunyai 6 buah tabel pembantu (Auxiliary Table), yaitu :
Tabel 1. Subdivisi standar
Tabel 2. Subdivisi wilayah
Tabel 3. Subdivisi kesusastraan
Tabel 4. Subdivisi tata bahasa dan linguistik
Tabel 5. Subdivisi ras, bangsa, dan kelompok etnis
Tabel 6. Subdivisi bahasa

Masing – masing tabel itu berisi daftar notasi tambahan untuk kelompok masing-masing yang dalam pemakaiannya tidak pernah berdiri sendiri, melainkan digabungkan dengan notasi-notasi dasar. Hal ini akan dibahas pada pembahasan berikutnya.

E. Indeks Relatif

Bagan klasifikasi dapat dikatakan baik jika ia disertai dengan indeks. Indeks adalah suatu daftar kata atau istilah yang disusun secara sistematis dan masing-masing mengacu pada bagan klasifikasi. Setiap istilah yang terdaftar tidak selalu mengacu pada satu nomor kelas yang pasti, tetapi sering pula istilah tersebut mengacu pada berbagai pilihan nomor kelas sesuai dengan disiplin ilmu atau aspek yang ada kaitannya dengan istilah tersebut. Itulah sebabnya indeks ini disebut indeks relatif.
Susunan alfabetis istilah ini dapat membimbing dan memudahkan pengklasir dalam menentukan notasi kelas dari subjek bahan pustaka yang telah dianalisisnya. Namun demikian para pengklasir hendaknya tidak memutuskan notasi akhir sutau subjek melalui indeks. Langkah penting yang harus dilakukan untuk selanjutnya adalah memeriksa kembali bagan klasifikasi secara jelas.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar